Pertemuan pertama dengan Google Chrome

Mengisi sahur hari ketiga Ramadhan ini denganĀ mendownload Google Chrome, dengan bayangan penasaran setelah liatĀ “presentasi” komikal, sebuah cara tidak biasa untuk menjelaskan fitur sebuah produk baru.Ukuran download cuma 475KB. Yup, kecil banget.Tapi jangan tertipu, ini cuma tool untuk mendownload paket lengkap Google Chrome yang ga tau persisnya seberapa gede. Setelah ChromeSetup selesai mendownload, muncul aplikasi installer sesungguhnya dalam bahasa Indonesia. Yup, benar, Bahasa Indonesia … dan nampaknya Google mendukung bahasa lain juga.Gak lama kemudian Google Chrome nongol ke layar dengan meninggalkan shortcut di desktop dan Start Menu (ada pilihan untuk Batang Jalan Pintas [lucu ya namanya] tapi nggak gw pilih). Oke, saatnya mencoba …Buka-buka halaman website yang biasa gw kunjungi (anandtech, engadget, tomshardware, hack-a-day, gmail, yahoo mail, meebo, facebook, youtube, etc), rasanya nggak secepat Firefox, karena Chrome masih mendownload banner2 iklan (FF gw udah dipersenjatai AdBlock Plus) … AdBlock Plus, we need you here.Secara keseluruhan render page bagus banget, nggak ada bedanya dengan Firefox (dalam segi tampilan dan kecepatan). Flash juga udah jalan, ga tau deh dia pake plugin dari mana.Yang Keren:

  • Komiknya, absolutely. Benar-benar sebuah cara unik untuk menunjukkan superioritas teknologi Google yang berbasis keterbukaan dan dont’t be evil.
  • Desain window Chrome: simpel, bersih dan fungsional. Mencukupi untuk kebanyakan pengguna internet.
  • Engine WebKit yang dipilih sebagai basis rendering engine Chrome. Sebuah pilihan yang bagus untuk browser yang didesain ringan dan efisien. Saat ini WebKit dipakai di Safari, browser bawaan Nokia S60 (Symbian) dan nantinya Android. Engine Gecko-nya Firefox memang sangat powerfull, namun masih belum cukup efisien untuk dibawa ke perangkat ponsel.

Yang nyenengin :

  • Start page untuk tab baru yang [sering] memudahkan, mirip speed dial-nya opera tapi berisi halaman yang kita buka (dengan mengetikkan URL dari omnibar).
  • Layout aplikasi yang sangat efisien, ngasih lebih banyak space di layar buat halaman web yang ditampilin. Window Chrome cuma ada kumpulan tab, dengan toolbar di bawahnya yang sangat terlalu bersih dan simpel. Hanya ada tombol back, forward, refresh, bookmark dan url pada omnibar, disusul “control the current page” dan Options. Mirip FF gw yang udah diinstall TinyMenu atau Personal Menu. Sayangnya Chrome membiarkan tampilan ini terlihat “kurang powerful” di mata user yang ingin sedikit bermain-main.
  • Terasa tanpa beban. Meskipun di tab sebelah lagi loading banyak hal (gw coba dengan page yang berisi 1000an thumbnail berbagai ukuran dari localhost), tab yang gw buka ga terasa berat … emang seeh ongkosnya juga setimpal : Chrome membuka 1 page dalam 1 proses. info menyusul, liat di bawah …
  • Status bar yang mendukung efisiensi. Secara default status bar nggak tampil. Waktu mouse diarahin ke hyperlink, baru keluar status bar panel kecil di kiri bawah, menutupi horizontal yang teracuhkan saat kita asyik ngubek-ngubek hyperlink.
  • Task Manager. Ini yang bikin Chrome beda. Chrome mengelola tab dalam tiap proses berbeda, bisa dilihat dari task manager-nya Windows. Chrome punya Task Manager built-in, bisa diakses dari klik kanan pada border window di sekitar tab. Task manager ini sangat simpel, cuma ada kolom Page, Memory, CPU, Network yang menampilkan status penggunaan masing-masing resource saat ini. Meskipun simpel, namun sangat fungsional, ditambah lagi ada link “Stats for nerds” di bawahnya. Bila di klik, Chrome akan membuka tab baru berisi url “about:memory”, menampilkan informasi yang lebih detail , ada PID [sesuai Task Manager-nya Windows], nama obyek [tab/browser/plug-in] dan pemakaian memory secara detail [private dan virtual]

Yang Nyebelin :

  • Shortcut Ctrl+S (save) nggak belum ada … gw coba buka gambar JPG dalam 1 page, lalu tekan CTRL+S. kotak dialog Sava As gak nongol, harus klik kanan baru “Save Image As” … sepele sih, tapi bagi gw itu sangat memperlambat.
  • Karena konsepnye 1 tab = 1 proses (ditambah proses untuk plug-in), maka banyak chrome.exe berserakan di Task Manager (lihat gambar di atas), juga di memory Windows. Ini bisa jadi sumber overhead, mengingat setiap chrome.exe menyimpan kodenya masing-masing. Hasilnya Chrome jadi lebih stabil dengan “mengurung” tiap tab dalam 1 proses (crash 1 tab gak bakal merembet), tapi juga lebih boros memory. Kalo gw seeh ga masalah, memory 3GB di laptop harus diberdayakan … tapi kalo user lain yang memorynya kurang dari 1GB? … saran gw jangan buka tab banyak-banyak dengan Chrome.
  • Tampilan yang terlalu simpel membuat user yang senang bermain-main merasa kekurangan ruang gerak. Memang Google mendesain Chrome agar mudah digunakan, bukan (atau belum) mudah dimain-mainin. Ditambah lagi belum adanya plug-in (Google Gears-kah plugin-nya ? gw harap seeh bisa make dan kompatibel ama xpi-nya FF) membuat Chrome terlihat masih sangat propietary, meskipun open source namun belum banyak komunitasnya (lha API-nya aja belom dirilis).
  • Pindah-pindah antar tab pake Ctrl+Tab dan Ctrl+Shift+Tab kadang macet. (Kedua shortcut ini udah gw program ke mouse gw, biar lincah pindah-pindah tab) … gak selalu seeh, cuman mengganggu aja (tepatnya: malas menggeser kursor mouse untuk kemudian mengklik tab)
  • Menu popup dari klik kanan masih sering telmi. Untuk “open in new tab” aja kadang perlu diklik 2x baru beraksi. Jangan bilang kompie gw lemot, di FF aja gak pernah kayak gitu (tapi jangan bandingin versi 0.2 dengan versi 3.0.1 donk)
  • Tulisan di tab sering nunjukin “Loading” pada beberapa situs dengan AJAX. Meeskipun aplikasi AJAX-nya berfungsi dengan baik, namun kayaknya engine V8 yang digunakan Chrome masih harus diuji kompatibilitasnya.
  • Setelah upload gambar di tinypic, tab-nya makan CPU sampe 50% (gw liat di Task Manager-nya Chrome). Tutup tab yang bikin berat tsb, masalah selesai … tanpa gw tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagai software dengan label beta, Chrome terlihat sarat inovasi, bahkan pada rilis beta pertamanya … menunjukkan keseriusan Google untuk membuat browser berkualitas. Perkembangan Chrome tampaknya layak untuk disimak, juga komitmen Google untuk take-and-give perkembangan teknologi browser dengan browser [open source] lainnya.Bagaimanapun Chrome terlihat sangat menjanjikan, belum lagi pasar mobile yang juga bakal disasar oleh Chrome, kayaknya mulai hari ini browser lain harus giat berinovasi

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>